Skip to content

Mahasiswa dan Pemburu

Pernah suatu ketika seorang dosen bercerita di kelas. Ceritanya tentang seorang teoritis (kita sebut saja Mahasiswa) dan seorang praktisi (kita sebut dengan pemburu). Begini ceritanya:

Ada seorang mahasiswa yang setiap harinya diisi dengan belajar berbagai disiplin ilmu. Pelajaran yang sangat disukainya adalah tentang berburu kijang. Begitu tekunnya sang mahasiswa sampai-sampai dia mengetahui untuk menembak seekor kijang jarak idealnya adalah x meter. Bagian tubuh yang paling tepat untuk dijadikan sasaran tembak pun diketahui di luar kepala. Intinya sang mahasiswa mengetahui apapun yang terbaik untuk berburu kijang. Tetapi dia jarang sekali (baca:malas) berlatih untuk menembak binatang buruannya.

Di sisi lain ada seorang pemburu. Setiap hari kerjanya hanya berburu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hewan yang paling sering diburu adalah kijang. Selain dagingnya enak dimakan, tanduk dan kulitnya dapat dijual dengan harga tinggi. Berbeda dengan mahasiswa, sang pemburu tak pernah belajar cara berburu yang terbaik untuk berburu seekor kijang. Semua ilmu diperolehnya melalui pengalaman. Bukan di bangku kuliah ataupun dalam pelatihan berburu kijang.

Suatu ketika ada seseorang yang meminta sang mahasiswa bertarung dengan pemburu untuk menangkap seekor kijang dalam keadaan hidup. Sang mahasiswa tahu betul apa yang harus dilakukan. Dia tahu semua prosedur yang memungkinkannya untuk dapat menangkap kijang dengan cara yang sangat efektif. Sang pemburu tak mau kalah, dengan berbekal segudang pengalaman, dia pun maju untuk bertanding dengan mahasiswa tadi.

Pertandingan dimulai. Sesuai dugaan, sang pemburu berhasil menangkap kijang tetapi kijang sudah dalam keadaan mati dengan banyak luka tembak di sekujur tubuhnya. Akhirnya tidak ada yang memenangan pertandingan.

Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik cerita di atas. Dalam kasus pertama sebenarnya sang mahasiswa begitu paham apa yang seharusnya ia lakukan untuk menangkap kijang itu dalam keadaan hidup. Tetapi ia tak bisa menembak. Kurang latihan adalah salah satu yang menjadi penghalangnya. Sedangkan pada kasus kedua, walaupun sang pemburu berhasil menangkap kijang, tetapi kijang sudah tidak dalam keadaan hidup lagi. Sang pemburu hanya mengandalkan pengalamannya saja. Tentu saja kita tidak dapat mengatakan bahwa belajar dari pengalaman itu tidak baik, tetapi bukanlah lebih bijaksana jika kita belajar dari pengalaman orang lain. Jika kita telah belajar dari pengalaman orang lain -bisa dengan bertanya ataupun membaca di buku- kita tidak perlu untuk selalu memulai pekerjaan dari tangga ke-nol.

Jika saja sang mahasiswa sering berlatih tentu dia akan dapat memenangkan pertandingan; dan jika saja sang pemburu mau belajar selain dari pengalamannya sendiri, tentu ia akan berburu dengan lebih efektif dan dapat menangkap kijang dalam keadaan hidup. Kebanyakan kita adalah tipikal pemburu atau mahasiswa. Kita yang bertipe “mahasiswa” sering mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari pelatihan publik speaking, pelatihan enterpreneur, dan banyak pelatihan lain. Tetapi begitu kita diminta ‘action’ kita tidak bisa banyak berbuat. Adapun kita yang bertipe pemburu, kebanyakan kerja kita tidak baik dalam penyelesaian akhir. Memang sich kerjaan beres tetapi hasilnya tidak bisa disebut bagus (kalau tidak boleh disebut jelek).

Semoga mulai detik ini kita dapat melakukan segala sesuatu dengan arah yang benar dan prosedur yang benar. Tidak seperti mahasiswa dalam cerita ini dan tidak seperti pemburu dalam cerita ini juga tentunya; tetapi kita akan berusaha menjadi perpaduan antara kedua tokoh kita di atas. Mudah-mudahan Allah swt memudahkan kita. Amien….

One Comment

  1. Gimana cara mengombinasikan keduanya, ya?
    *thinking, thinking*
    Sepertinya perlu lebih banyak usaha lagi biar jadi rajin. Errrr. Sindrom malasku kumat di komentar ini. Hihihi,

    Posted on 23-Oct-09 at 8:35 am | Permalink

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*