Seorang Kakek dan Seekor Rubah
Suatu ketika tinggallah seorang kakek dan seorang cucunya. Bertani dan beternak ayam adalah pekerjaan yang dilakukan sehari-hari oleh sang kakek. Pada suatu hari di sekitar kandang terlihat bekas darah yang berceceran. Betullah dugaan kakek tertyata ayam peliharaannya hilang seekor.
Rencana pun disusun untuk menjebak si pencuri ayam. Setiap orang yang mendekati kandang dicurigainya sebagai “si pencuri ayam”, tetapi tiada hasil. Sang pencuri terus mencuri ayam si kakek tanpa diketahui, sang kakek pun kesal karena tiap hari ada saja ayamnya yang dicuri dan si malingpencuri ayam -seperti biasa- meninggalkan bercak darah di sekitar kandang.
“Kek kita pasang jebakan saja”, usul sang cucu kepada kakeknya. “Benar juga kamu, dengan begitu kita tidak perlu seharian menjaga ayam-ayam kita.”
Jebakan pun dibuat dengan seksama. Akhirnya tertangkap juga “si pencuri ayam”. Ternyata pencurinya adalah seekor rubah. Dengan penuh kemarahan kakek ingin “memberi pelajaran” pada si pencuri ayam. Maka dililitkanlah ekor rubah si pencuri ayam dengan kain yang dilumuri bensin.
“jangan kek…! jangan dibakar kan ngga boleh membunuh binatang dengan cara dibakar…mendingan langsung dibunuh, itu kan ngga menyiksa”, sang cucu memberi nasihat.
Tetapi Kakek tidak memperdulikan perkataan cucunya, dan dibakarlah ekor rubah pencuri ayam tadi dengan satu sulutan api. Kontan saja sang rubah berlarian mencari air untuk memadamkan api di ekornya yang makin membakar tubuhnya. Tetapi sungguh malang nasib si rubah tak ada air di sekitar kandang.
Sang rubah belum berhenti berlari, ia menuju ke arah sawah. Biasanya di sawah selalu ada air. Begitu sampai di sawah, sang rubah langsung lompat ke sawah. Tetapi sekali lagi rubah benasib kurang beruntung. Ia lupa bahwa padi telah menguning, tentu tak ada air di sana. Rubah pun mati terbakar bersama terbakarnya padi yang sebenarnya sudah siap panen.
sang rubah mati dan kakek tidak jadi panen raya karena padinya terbakar oleh ekor si rubah yang telah ia bakar dengan kejam.
***
Terkadang kita seperti Kakek yang ada di cerita di atas. Dendam sering kali ada di hati kita, entah itu karena kecewa di organisasi yang kita jalani, kesal dengan perilaku teman yang menjengkelkan, atau pun hal yang lain. Ketahuilah dendam itu sama sekali ngga ada untungnya. coba lihat kakek tua di cerita tadi. Hanya karena dendam yang sangat kepada rubah sampai ia tega membakar rubah hidup-hidup untuk melampiaskan kemarahannya.
Saudaraku yang budiman…..
Cobalah untuk mengikhlashkan setiap kesalahan saudara kita, teman kita, guru kita, dan terlebih orang tua kita. Buanglah jauh-jauh rasa dendam. Ketahuilah memafkan itu salah satu ciri orang yang bertaqwa.
sumber cerita : Habiburrahman E, yang nulis Ayat-ayat cinta,(2004),Ketika cinta berbuah surga Bandung:MQS
cool