Jabat Tangan Dua Presiden

Saya bahagia melihat berita “Pemerintah Berencana Membuka Kembali Proyek Strategis” di liputan 6.com. Di sana di sebutkan
Industri strategis yang menjadi perhatian utama di antaranya PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Kodja, dan PT Industri Kereta Api, serta industri alat utama sistim persenjataan.
Walaupun di berita tersebut menyebutkan bahwa Industri tersebut adalah “industri mercusuar” -yang terlihat terang dari luar tetapi sebenarnya gelap jika di dalam- saya tetap optimis industri-industri strategis di atas dapat berkembang baik dengan syarat (salah satunya) tidak dicampuradukkan dengan kepentingan politik. Saya optimis dengan potensi anak-anak bangsa yang luar biasa. Mudah-mudahan dengan “dihidupkannya” lagi industri “cerdas” tersebut dapat meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Mudah-mudahan nanti akan ada beasiswa untuk pergi ke Jerman untuk belajar pesawat, belajar ke Belanda untuk membuat kapal, sekolah di Jepang untuk “melihat” kereta.
Saya juga melihat ini bukanlah suatu movement politik dari Pak Habibie menjelang Pilpres 2009, tetapi saya percaya inilah salah satu cara Pak Habibie membangun Indonesia dengan teknologi.
Mudah-mudahan ini bukan hanya omong kosong pemerintahan saat ini. Walaupun industri-industri tersebut bukanlah industri padat karya -yang banyak menyerap tenaga kerja- tetapi industri-industri tersebut adalah “industri cerdas karya”, yang insyaAllah juga dapat meningkatkan harga diri bangsa di mata internasional. Kita akan buktikan bahwa negera ini bukan hanya mampu “mengeksport” –maaf- pembantu , tapi juga mampu mengekspot engineer.
Akankan suatu saat bangsa kita bisa berkata seperti bangsa India yang berkata pada Mc Donald : “Don’t make potato chip here, but make microchip here”